Tentang

Apa dan bagaimana pesan dari kegiatan DelapanKomaTujuh

DelapanKomaTujuh

“DelapanKomaTujuh untuk Turunkan Prevalensi Perokok Anak merupakan kampanye sosial dan gerakan masyarakat untuk mendorong Pemerintah melakukan revisi PP 109/2012 agar prevalensi perokok anak turun menjadi 8,7% pada 2024”

Tentang Koalisi Masyarakat Peduli Kesehatan (KOMPAK)

Koalisi Masyarakat Peduli Kesehatan (KOMPAK) adalah gabungan LSM pegiat pengendalian konsumsi rokok untuk peningkatan kualitas kesehatan, perlindungan terhadap kesehatan dan kualitas tumbuh kembang anak. Di antaranya adalah Komite Nasional Pengendalian Tembakau, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Yayasan Lentera Anak, Yayasan Kepedulian untuk Anak Surakarta, Forum Warga Kota Jakarta Indonesia, Lembaga Perlindungan Tunas Bangsa, Yayasan Pusaka Indonesia, dan Komisi Nasional Perlindungan Anak.

Pesan Kunci


1. PP 109 terbukti gagal melindungi anak. Prevalensi perokok anak terus meningkat dan pada masa pandemi Covid-19 anak-anak semakin rentan menjadi perokok pemula dan perokok pasif.

a. konsumsi rokok adalah sebab penularan dan penyebaran terbesar Covid-19 karena tangan akan sering bersentuhan dengan bibir dan paru-paru perokok lebih rentan terpapar COVID-19.
b. Daerah yang tingkat perokoknya tinggi juga merupakan daerah yang tingkat kasus covid tinggi (PolicyBrief, Komnas PT)
c. PJJ berpontensi meningkatkan perokok anak karena anak tanpa pengawasan guru dan orang tua.
d. Regulasi PP yang lemah: iklan yang masif di internet, penjualan batangan, produk.

2. Darurat rokok menyebabkan Triple Burden: epidemi tembakau, pandemi covid, munculnya produk baru yang akan menjadi memperberat beban kesehatan.
3. Revisi PP 109 harus segera diselesaikan untuk melindungi anak dalam situasi darurat rokok.

a. Regulasi yang kuat akan mencegah peningkatan prevalensi perokok, khususnya perokok anak, sehingga akan mendukung penanganan pandemi Covid-19 dan pemulihan ekonomi
b. Perlindungan anak dari zat adiktif produk tembakau harus diintervensi oleh regulasi yang kuat sebagai komponen penting dalam mengubah perilaku.
c. Revisi PP 109 akan menjadi regulasi terpenting untuk mencapai target penurunan prevalensi perokok anak sesuai mandat dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020– 2024.

Apa yang terjadi saat ini?


1. Peraturan Pemerintah No. 109 tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Produk Tembakau Bagi Kesehatan (PP109/2012) TERBUKTI GAGAL melindungi anak dari adiksi rokok. Prevalensi perokok anak terus meningkat, dari 7,2% pada tahun 2013 menjadi 9,1% pada tahun 2018 (Riskesdas 2013 dan 2018). Padahal RPJMN (Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional) menargetkan pada 2019 prevalensi perokok anak harus turun menjadi 5,4%.

2. Sejatinya tujuan dari implementasi PP 109/2012 adalah untuk melindungi kesehatan perorangan, keluarga, masyarakat dan lingkungan dari dampak zat adiktif rokok. Terjadinya kegagalan ini menunjukkan ADA YANG SALAH DAN TIDAK BERFUNGSI dari PP 109/2012.

3. Kegagalan PP 109/2012 dalam melindungi anak dari rokok antara lain karena iklan rokok masih diperbolehkan meskipun ada pengaturan. Ini menjadi CELAH YANG DIMANFAATKAN INDUSTRI ROKOK UNTUK BERIKLAN yang memang menyasar anak-anak menjadi perokok baru, antara lain melalui iklan di internet, televisi, dekat sekolah dan tempat-tempat strategis lainnya. Pelanggaran peraturan tentang sponsor rokok dengan melibatkan anak dan mencantumkan logo dan merek dagang produk rokok dibiarkan saja tanpa sanksi yang tegas. Selain itu PP 109/2012 juga gagal mencegah penjualan rokok kepada anak karena anak masih bebas membeli rokok bahkan secara batangan

4. Ini bagai menyimpan bom waktu yang suatu saat akan meledak dan menggagalkan Indonesia menikmati bonus demografi tahun 2030 dan Indonesia emas 2045. Karena dalam 10-20 tahun mendatang perokok anak hari ini terancam sakit atau meninggal di usia produktif. Bappenas memperkirakan jika tidak ada upaya signifikan melindungi anak dari bahaya rokok, PEROKOK ANAK AKAN MENCAPAI 15,95% ATAU SEKITAR 15 JUTA ANAK pada tahun 2030.

5. Karena itu, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020 -2024, Pemerintah menargetkan perokok anak turun menjadi 8,7% pada tahun 2024 dengan melakukan Revisi PP 109/ 2012 yang diamanatkan oleh Perpres No.18/2020.

6. Revisi PP 109/2012 meliputi pelarangan total iklan, promosi, sponsor rokok, perbesaran pencantuman peringatan bergambar bahaya merokok, pengaturan rokok elektronik, pelarangan penjualan rokok batangan dan penegakan hukum .

7. Revisi PP 109/2012 sudah tertunda lebih dari 2 tahun dan hingga kini prosesnya masih tertahan di Kementerian Kesehatan. Meskipun Presiden telah memberi mandat melalui Perpres No.18/2020 dan Menko PMK sudah mengirim surat kepada Menteri Kesehatan agar menyelesaikan pembahasannya.

8. Ayo dukung Menteri Kesehatan segera menyelesaikan revisi PP 109/2012 untuk selamatkan anak Indonesia, jangan sampai kita kehabisan waktu !